Langsung ke konten
Nasional

Ricuh Demo Cipayung Menggugat di DPR, Satu Mahasiswa Ditangkap dan Mengaku Dipukul, Massa Ultimatum 3x24 Jam

5 menit baca
7x dibaca
AD 728x90 — Landscape
Bagikan:
Ricuh Demo Cipayung Menggugat di DPR, Satu Mahasiswa Ditangkap dan Mengaku Dipukul, Massa Ultimatum 3x24 Jam

Jenterarakyat.com , Jakarta. Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak siang tak menyurutkan langkah ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Menggugat untuk menyuarakan aspirasinya di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin...

Jenterarakyat.com , Jakarta. Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak siang tak menyurutkan langkah ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Menggugat untuk menyuarakan aspirasinya di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026). Namun aksi yang berlangsung dari pukul 13.00 WIB hingga 17.30 WIB itu diwarnai insiden penangkapan seorang demonstran yang mengaku mengalami kekerasan dari aparat kepolisian.

Aliansi yang terdiri dari GMNI Jakarta Timur, PMKRI Jakarta Timur, LMND Jakarta Timur, dan PMKRI Jakarta Selatan ini membawa lima tuntutan utama, mulai dari desakan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur hingga evaluasi total Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kronologi Ricuh: Ban Bekas, Adu Dorong, dan Penangkapan

Baca Juga
Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 6 Juni 2026

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 6 Juni 2026

Nasional

Kericuhan bermula ketika sejumlah demonstran berencana melakukan aksi bakar ban di depan gedung parlemen. Ban yang telah disiapkan semula diletakkan di depan mobil komando sebagai bagian dari aksi. Namun aparat kepolisian segera mengambil ban tersebut dan membawanya pergi, sehingga memicu reaksi dari massa.

Penolakan aparat memicu adu dorong antara massa aksi dan petugas keamanan. Dalam situasi tersebut, Dzakwan Falih (24) , mahasiswa semester 10 Institut Bisnis Nusantara (IBN) yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Politik dan Hubungan Antar Lembaga DPC GMNI Jakarta Timur, diamankan dan dibawa ke area dalam gedung DPR.

“Teman kami yang ditangkap itu tindakan yang sangat tidak etis. Kita tidak melakukan kerusakan fasum, kita hanya melakukan unjuk rasa sambil membakar ban,” kata orator melalui pengeras suara. Massa aksi lainnya juga langsung merespons dengan meminta aparat untuk melepaskan rekan mereka.

Baca Juga
200 Siswa SMA Se-Jawa Timur Belajar Bela Negara hingga Survival Selama Dua Hari Penuh

200 Siswa SMA Se-Jawa Timur Belajar Bela Negara hingga Survival Selama Dua Hari Penuh

Nasional

 

Dzakwan Mengaku Dipukul di Perut dan Bahu

Setelah dibebaskan pada pukul 15.41 WIB, Dzakwan menceritakan pengalaman pahitnya. Ia mengaku dipukul di beberapa bagian tubuh setelah diamankan.

Baca Juga
Mulai 10 Juni 2026, KA Cikuray Gunakan Sarana Ekonomi Kerakyatan untuk Layani Lebih Banyak Masyarakat

Mulai 10 Juni 2026, KA Cikuray Gunakan Sarana Ekonomi Kerakyatan untuk Layani Lebih Banyak Masyarakat

Nasional

“Saya ditangkap saat hendak membakar ban sebagai bentuk protes. Saya dipukul di bagian perut dan bahu,” ungkap Dzakwan dengan suara bergetar dan tubuh yang masih lemas.

Ia mengaku menerima pesan dari aparat agar demonstrasi tidak dilakukan dengan tindakan yang dianggap anarkis. “Kalau mau demo, jangan anarkis,” ucapnya mengingat pesan petugas. Meski telah kembali bergabung bersama peserta aksi lainnya, Dzakwan mengaku masih mengalami syok akibat kejadian tersebut. “Saya masih lemas dan trauma,” tuturnya.

Lima Tuntutan Cipayung Menggugat

Dari atas mobil komando, orator menyampaikan kritik pedas terhadap kondisi negara saat ini. Mereka bahkan mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mundur dari jabatannya.

Adapun lima tuntutan yang disuarakan dalam aksi tersebut adalah:

1. Mendesak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mengundurkan diri sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI.

2. Menuntut pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia.

3. Menuntut pemerintah segera menurunkan harga BBM.

4. Mendesak evaluasi total terhadap tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) .

5. Menuntut penghentian sementara Program MBG hingga evaluasi menyeluruh dilakukan.

“Kami meminta Prabowo-Gibran mundur karena sudah gagal total memimpin Indonesia,” ujar orator melalui pengeras suara.

Reaksi Ketua GMNI: “Aksi Kami Tidak Akan Berhenti di Sini”

Jansen Henry Kurniawan, Ketua DPC GMNI Jakarta Timur, menyatakan penyesalannya atas insiden yang menimpa salah satu kader organisasinya. Ia juga menyoroti sikap DPR RI yang dinilai tidak menunjukkan keberpihakan terhadap aspirasi mahasiswa.

“Kami sangat menyesalkan dugaan tindakan represif terhadap kader kami,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa aksi ini bukanlah yang terakhir. “Kami pastikan kami akan datang ke sini dan kami akan datang dengan kekuatan yang lebih besar. Dan kami minta kepada aparat, jangan melakukan intimidasi dan tindakan represif terhadap gerakan moral kami,” tegasnya.

 

PMKRI Soroti Papua dan MBG

Emanuel Odo, Ketua Presidium PMKRI Jakarta Timur, menyoroti berbagai persoalan yang menurutnya belum terselesaikan, termasuk isu ketidakadilan di Papua.

“Menegaskan bahwa Papua bukan tanah kosong. Papua harus menjadi tempat di mana masyarakat Papua menikmati hasil alamnya sendiri, bukan datang dengan besi,” tegasnya.

Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Emanuel menilai program tersebut perlu dievaluasi total karena dianggap belum menjawab kebutuhan mendasar masyarakat. “Program ini harus dievaluasi secara menyeluruh agar benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.

Abdul Latief, Ketua LMND Jakarta Timur, menyampaikan bahwa ini adalah gerakan moral yang semata-mata bertujuan untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan politik. “Di tengah Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja, saatnya mahasiswa bersatu dan turun ke jalan untuk menyuarakan suara kebenaran,” ujarnya.

Ultimatum 3x24 Jam dan Pembubaran Aksi

Para demonstran yang telah menunggu selama berjam-jam tanpa ada perwakilan DPR yang menemui mereka, akhirnya memberikan ultimatum 3x24 jam. Mereka menuntut anggota dewan untuk merespons tuntutan yang telah disampaikan.

“Aksi kami tidak akan berhenti sampai di sini. Karena dari tadi kami menunggu inisiatif dari wakil rakyat tapi satu pun tidak ada,” kata Jansen saat menutup aksi.

Setelah pernyataan disampaikan, koordinator lapangan mengatur pembubaran massa secara bertahap hingga seluruh peserta meninggalkan lokasi. Arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto arah Slipi kembali normal dan ramai lancar. Situasi di sekitar kompleks parlemen dinyatakan kondusif.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait tudingan dugaan kekerasan terhadap peserta aksi tersebut. Jenterarakyat.com akan terus memantau perkembangan kasus ini.

 

( Jsn )

AD 728x90 — Landscape
R

Ditulis oleh

Redaksi Jentera

Aktifkan Notifikasi

Dapatkan update berita terbaru langsung di browser Anda.