Langsung ke konten
Nasional

Dokter Spesialis Anak Buka Suara soal Viral Balita Diajak Konser di Venue Penuh Air, Ini Risikonya

6 menit baca
31x dibaca
AD 728x90 — Landscape
Bagikan:
Dokter Spesialis Anak Buka Suara soal Viral Balita Diajak Konser di Venue Penuh Air, Ini Risikonya

JAKARTA, Jenterarakyat.com | Sebuah video yang memperlihatkan seorang ibu membawa anak balitanya menghadiri konser malam hari di A'Famosa Waterworld Melaka, Malaysia, viral di media sosial. Warganet tak hanya menyoroti venue konser yang berupa kolam...

JAKARTA, Jenterarakyat.com | Sebuah video yang memperlihatkan seorang ibu membawa anak balitanya menghadiri konser malam hari di A'Famosa Waterworld Melaka, Malaysia, viral di media sosial. Warganet tak hanya menyoroti venue konser yang berupa kolam renang, tetapi juga kondisi anak yang tampak kelelahan dan tertidur di tengah air.

Video yang awalnya diunggah di akun TikTok @nurdidit99 dan kembali dibagikan di Threads @delvanitautari ini telah diputar lebih dari 4,6 juta kali. Kini, seorang dokter spesialis anak ikut angkat bicara memberikan edukasi kepada publik, terutama para orang tua.

dr. Tita Menawati, M.Kes, Sp.A, melalui unggahan video stitch di akun TikTok-nya, menjelaskan secara rinci risiko kesehatan yang mengintai balita jika diajak ke konser malam dengan venue basah seperti itu.

Baca Juga
Ricuh Demo Cipayung Menggugat di DPR, Satu Mahasiswa Ditangkap dan Mengaku Dipukul, Massa Ultimatum 3x24 Jam

Ricuh Demo Cipayung Menggugat di DPR, Satu Mahasiswa Ditangkap dan Mengaku Dipukul, Massa Ultimatum 3x24 Jam

Nasional

“Mohon maaf tante dokter stitch video di atas yaa Bun, sebagai edukasi kita bersama,” tulis dr. Tita.

Risiko 1: Hipotermia pada Balita

Penjelasan pertama dr. Tita dimulai dengan risiko hipotermia. Menurutnya, bayi dan balita memiliki sistem pengaturan suhu tubuh yang belum matang.

Baca Juga
Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 6 Juni 2026

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 6 Juni 2026

Nasional

“Bayi bisa dengan mudah mengalami hipotermia karena tubuh bayi belum mampu mengatur suhu sebaik orang dewasa,” tulisnya.

Hipotermia terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya memproduksi panas. Suhu tubuh yang normal berkisar 36,5-37,5 derajat Celsius. Jika turun di bawah 35 derajat, seseorang masuk dalam kondisi hipotermia ringan.

Pada balita, hipotermia bisa terjadi lebih cepat karena:

Baca Juga
200 Siswa SMA Se-Jawa Timur Belajar Bela Negara hingga Survival Selama Dua Hari Penuh

200 Siswa SMA Se-Jawa Timur Belajar Bela Negara hingga Survival Selama Dua Hari Penuh

Nasional

· Rasio luas permukaan tubuh terhadap berat badan lebih besar
· Lemak tubuh lebih sedikit sebagai isolator panas
· Kemampuan menggigil masih terbatas

“Saat malam hari, terkena hujan (atau air kolam), dan pakaian basah, suhu tubuh bayi bisa turun cepat,” papar dr. Tita.

Gejala hipotermia pada balita meliputi:

· Menggigil hebat (pada tahap awal)
· Kulit pucat dan dingin saat disentuh
· Kebiruan pada bibir dan ujung jari
· Mengantuk berlebihan dan lemas
· Pada kasus berat, bisa kehilangan kesadaran

Risiko 2: Daya Tahan Tubuh Menurun, Rentan Infeksi

Dr. Tita juga menjelaskan hubungan antara kedinginan dan sistem kekebalan tubuh.

“Kedinginan tidak langsung menyebabkan flu, tapi tubuh yang stres karena dingin dapat membuat bayi lebih rentan terkena infeksi virus yang sudah ada di sekitar,” imbuhnya.

Ketika tubuh kedinginan, pembuluh darah di saluran pernapasan menyempit (vasokonstriksi). Akibatnya, sel-sel imun seperti makrofag dan neutrofil yang bertugas melawan virus berkurang jumlahnya di lapisan mukosa hidung dan tenggorokan. Ini membuat virus lebih mudah masuk dan menginfeksi.

Selain itu, stres dingin juga meningkatkan produksi hormon kortisol yang dalam jangka pendek menekan sistem imun.

“Konser malam di waterpark berarti anak terpapar air dingin, angin malam, dan kerumunan orang. Kombinasi ini sangat berisiko,” tegas dr. Tita.

Risiko 3: Gangguan Pendengaran Akibat Polusi Suara

Sorotan lain dr. Tita adalah tingkat kebisingan di konser. Dalam video viral tersebut, terdengar jelas musik keras yang diputar dari panggung.

“Konser identik dengan suara sangat nyaring. Telinga bayi masih sensitif, sehingga berisiko mengganggu pendengaran dan membuat bayi stres, rewel, atau sulit tidur,” paparnya.

Suara konser biasanya mencapai 100-120 desibel. Ambang batas aman untuk telinga manusia adalah 85 desibel selama 8 jam. Untuk setiap kenaikan 3 desibel, durasi aman berkurang setengahnya.

Pada balita, saluran telinga yang lebih pendek dan lebih sempit membuat gelombang suara terfokus lebih kuat ke gendang telinga. Akibatnya, kerusakan bisa terjadi lebih cepat.

Kerusakan pendengaran akibat suara keras (noise-induced hearing loss) bersifat permanen dan tidak bisa diperbaiki. Sel-sel rambut sensorik di koklea yang rusak tidak akan regenerasi.

Risiko 4: Gangguan Ritme Tidur

Dr. Tita juga menjelaskan bahwa konser malam bisa merusak ritme sirkadian anak.

“Gangguan tidur juga bisa muncul karena aktivitas tersebut bisa merusak ritme tidurnya,” tukasnya.

Ritme sirkadian adalah jam biologis alami tubuh yang mengatur siklus tidur-bangun. Pada balita, ritme ini biasanya sudah terbentuk dengan waktu tidur malam sekitar pukul 19.00-20.00.

Jika anak dipaksa begadang hingga larut malam di tengah keramaian dan suara keras, ritme ini bisa terganggu. Akibatnya:

· Anak sulit tidur beberapa hari setelahnya
· Tidur tidak nyenyak, sering terbangun
· Rewel dan mudah marah di siang hari
· Nafsu makan menurun
· Dalam jangka panjang, bisa mengganggu pertumbuhan

Risiko 5: Penularan Penyakit di Keramaian

Risiko terakhir yang disorot dr. Tita adalah penularan penyakit di tempat ramai.

“Risiko tertular penyakit, dari keramaian, kontak banyak orang sama dengan risiko tertular batuk pilek, influenza, atau infeksi lain lebih tinggi,” tukasnya.

Konser malam biasanya dihadiri oleh ribuan orang dengan sirkulasi udara terbatas. Waterpark yang lembab juga menjadi media ideal bagi virus untuk bertahan lebih lama di udara.

“Apalagi sekarang masih ada COVID-19, flu musiman, dan RSV (respiratory syncytial virus) yang sangat berbahaya untuk balita,” tambah dr. Tita dalam keterangan terpisah.

Sang Ibu Buka Suara: “Usia 2 Tahun, Dapat Izin Masuk”

Sementara itu, sang ibu yang videonya viral sudah memberikan klarifikasi melalui kolom komentar di akun TikTok @nurdidit99.

Ia menjelaskan bahwa anaknya berusia 2 tahun – bukan bayi yang masih merah. Ia juga menegaskan bahwa petugas venue mengizinkan anaknya masuk.

“Usia anak saya masuk 2 tahun, kalau ada larangan anak tak boleh masuk, mereka tak akan bagi anak masuk, ini biasa mandi air hangat, coba deh datang kesini lihat dulu baru komen dengan baik,” tulisnya.

Ia juga menyebut bahwa banyak anak-anak lain yang juga berada di lokasi tersebut.

“Ini jam 7 malam, saya datang lepas Maghrib, anak-anak juga banyak di sana. Kecuali saya bawa bayi masih merah, emang ada dugem tempat ginian?” tuturnya.

Warganet Terbagi Dua

Viralnya video ini memicu perdebatan di kalangan warganet. Sebagian mendukung sang ibu dengan alasan hak orang tua mengasuh anak. Namun sebagian besar justru mengkritik dan khawatir dengan keselamatan balita tersebut.

Setelah dr. Tita mengunggah video edukasinya, banyak warganet yang mengapresiasi penjelasan medis tersebut.

“Terima kasih dokter. Saya jadi paham kenapa anak nggak boleh dibawa ke tempat seperti itu. Risikonya terlalu besar,” tulis akun @ummi_hanif.

“Semoga ibu-ibu yang lain belajar dari kasus ini. Bawa anak itu bukan soal gaya, tapi tanggung jawab,” tulis akun @duniaparenting.

Kesimpulan: Edukasi untuk Semua Orang Tua

Kasus viral ini menjadi pelajaran berharga bagi semua orang tua tentang batasan dan risiko membawa balita ke tempat-tempat yang tidak sesuai usianya.

Meskipun secara aturan venue mengizinkan anak masuk, secara medis ada banyak risiko yang mengancam keselamatan dan kesehatan anak.

“Keselamatan anak adalah tanggung jawab orang tua. Jangan hanya karena ‘banyak anak lain’ atau ‘dapat izin masuk’, lalu mengabaikan risiko kesehatan yang nyata,” tutup dr. Tita dalam videonya.

(Stf)

AD 728x90 — Landscape
R

Ditulis oleh

Redaksi Jentera

Aktifkan Notifikasi

Dapatkan update berita terbaru langsung di browser Anda.