GMNI Buka Suara! Mahasiswa Zaman Now Banyak yang Apatis dan Individualis – "Jangan Jadi Penonton, Tapi Pelaku Perubahan!"
JAKARTA, Jenterarakyat.com – Hati-hati, mahasiswa! Fenomena menurunnya minat berorganisasi dan bergerak di kalangan intelektual muda kini mencapai titik yang mengkhawatirkan. La Ode Muh. Firmansyah, Ketua DPK GMNI STIE Indonesia Jakarta, angkat...
JAKARTA, Jenterarakyat.com – Hati-hati, mahasiswa! Fenomena menurunnya minat berorganisasi dan bergerak di kalangan intelektual muda kini mencapai titik yang mengkhawatirkan. La Ode Muh. Firmansyah, Ketua DPK GMNI STIE Indonesia Jakarta, angkat bicara. Dia menyoroti sikap apatis dan individualis yang makin merajalela. Di tengah negeri yang dilanda berbagai krisis sosial, ekonomi, hingga pendidikan, justru banyak mahasiswa yang memilih diam. Pasif. Menjauh dari ruang perjuangan.
“Ini alarm bagi kita semua! Mahasiswa sejatinya adalah kelompok intelektual muda dengan tanggung jawab moral terhadap bangsa. Jangan sampai kita kehilangan pilar pengontrol demokrasi!” tegas La Ode dalam pernyataan yang diterima Jenterarakyat.com.
Apa Penyebabnya? Arus Digital dan Budaya Instan
Dia menjelaskan, kemajuan teknologi dan derasnya informasi di media sosial telah mengubah pola pikir generasi muda. Mahasiswa sekarang lebih nyaman jadi penonton ketimbang pelaku perubahan. Scroll TikTok, lihat Instagram, ikuti tren sesaat – itu yang dominan. Sementara kepedulian terhadap persoalan rakyat? Luntur.
“Mereka sibuk mengkonsumsi konten digital, lupa bahwa di luar sana ada ketidakadilan, ada rakyat yang butuh suara mereka. Kesadaran kolektif digantikan kepentingan pribadi,” ujar La Ode.
Organisasi Bukan Sekadar Seremonial
Ketua DPK GMNI itu juga menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan bukan tempat nongkrong atau kegiatan seremonial belaka. Organisasi adalah ruang pembelajaran karakter, kepemimpinan, mental perjuangan, dan kemampuan berpikir kritis.
“Anggapan bahwa organisasi tidak relevan adalah pandangan keliru dan berbahaya! Di organisasi, mahasiswa belajar realitas sosial, diskusi, menyusun gerakan, membangun solidaritas. Kalau ini hilang, bangsa kita kehilangan agen perubahan,” ingatnya.
Mentalitas Pragmatis Pengkhianat Semangat Perjuangan
La Ode juga menyoroti budaya pragmatis dan instan yang tumbuh subur. Banyak mahasiswa sekarang hanya mau ikut organisasi kalau ada untung materi atau kepentingan pribadi. “Mentalitas pragmatis perlahan mengikis semangat perjuangan dan solidaritas. Padahal nilai utama pergerakan mahasiswa adalah pengabdian, proses, dan penguatan karakter, bukan keuntungan sesaat!”
Ajakan: Bangkit, Bergerak, Jangan Diam!
Atas dasar itu, La Ode mengajak seluruh mahasiswa Indonesia untuk kembali peduli. Kembali aktif di organisasi, forum diskusi, kajian ilmiah, dan aksi sosial.
“Perubahan tidak akan lahir dari sikap diam dan ketidakpedulian. Perubahan hanya bisa tercipta jika mahasiswa punya keberanian untuk berpikir, bersikap, dan bertindak. Yakinlah, generasi muda Indonesia masih punya potensi besar. Tapi potensi itu harus dibangun lewat kesadaran kolektif, pendidikan politik, dan keterlibatan aktif di masyarakat!”
Dia menutup dengan pesan membakar semangat: “Sudah saatnya mahasiswa kembali menjadi pelopor gerakan moral, pelindung nilai-nilai keadilan, dan penyambung suara rakyat. Sejarah selalu mencatat, perubahan besar lahir dari keberanian generasi muda untuk bergerak dan memperjuangkan kebenaran!”
Jenterarakyat.com mengajak seluruh mahasiswa: Jangan jadi apatis. Jangan individualis. Bangkit dan bergerak! (Tim Jenterarakyat)
Ditulis oleh
Redaksi Jentera