Harta Karun Bangsa di Ujung Tanduk! BNPB: 748 Bencana Ancam Cagar Budaya, dari Aceh hingga Semarang
Ratusan cagar budaya Indonesia terancam rusak oleh banjir, gempa, dan tsunami. BNPB catat 748 bencana hingga April 2026. Menteri Fadli Zon: Ini tanggung jawab kita semua.
JAKARTA | Jenterarakyat.com – Sahabat, kita bangga punya candi, masjid tua, benteng kolonial, dan naskah kuno yang diakui dunia. Tapi tahukah kamu? Harta karun bangsa ini ada di ujung tanduk. Ancaman bencana setiap saat bisa merenggutnya.
Hal ini diungkap dalam seminar “Cagar Budaya yang Tangguh Bencana Berkelanjutan” di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (14/4/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hadir sebagai narasumber dan membuka mata kita semua.
748 Bencana dalam 3,5 Bulan!
Abdul Muhari, Ph.D. , Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, membeberkan fakta mengejutkan. Hingga 13 April 2026, sudah terjadi 748 bencana di Indonesia. Banjir dan cuaca ekstrem jadi yang paling sering.
"Cagar budaya berisiko rusak atau hilang akibat bencana. Ini bukan teori, ini sudah terjadi berkali-kali," tegas Abdul Muhari.
Coba simak, Sahabat:
· Tsunami Aceh 2004 – lebih dari 50 situs budaya luluh lantak.
· Gempa Yogyakarta 2006 – Candi Borobudur dan Prambanan retak, rusak parah.
· Banjir dan longsor November 2025 – puluhan situs di Aceh, Sumut, Sumbar rusak.
· Kota Lama Semarang – setiap musim hujan, bangunan kolonial abad ke-19 terus diterjang banjir.
Fadli Zon: Cagar Budaya Adalah Jiwa Bangsa
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang membuka acara, bilang begini:
"Cagar budaya merupakan bagian dari sistem kehidupan yang juga rentan terdampak bencana. Bukan sekadar batu atau bangunan tua, tapi identitas dan memori kolektif kita."
Ia mengingatkan, manuskrip kuno dan artefak juga menyimpan pengetahuan tentang pola bencana masa lalu. Sayangnya, jika tidak diselamatkan, pengetahuan itu ikut lenyap.
Jepang Bisa, Kita Juga Bisa!
Abdul Muhari mengajak kita belajar dari Jepang pasca tsunami Tohoku 2011. Saat itu, ratusan properti budaya rusak. Tapi dalam waktu relatif singkat, mereka pulihkan.
Apa rahasianya?
1. Kolaborasi lintas sektor – pemerintah, akademisi, masyarakat, swasta semua gerak bersama.
2. Shiryō Net – jaringan data artefak yang memungkinkan penyelamatan sejak darurat.
3. Cultural Properties Doctor – tim khusus dokter budaya yang turun ke lokasi bencana.
4. Build back better – dibangun kembali dengan standar lebih kuat, lebih tahan gempa dan tsunami.
"Indonesia perlu transformasi. Jangan lagi reaktif. Harus mitigasi sejak dini," tegas Abdul Muhari.
Resep BNPB untuk Selamatkan Cagar Budaya
BNPB sudah punya usulan konkret, Sahabat. Antara lain:
· Inventarisasi dan pemetaan risiko – data siapa, di mana, seberapa rawan?
· Penguatan struktur bangunan – biar tidak ambruk saat gempa.
· Peningkatan kapasitas masyarakat – warga sekitar situs dilibatkan jadi penjaga.
· Sistem pemantauan berkelanjutan – deteksi dini ancaman.
BNPB juga punya platform InaRISK yang bisa mengintegrasikan data bahaya, kerentanan, dan kapasitas dalam satu peta digital.
"Dengan InaRISK, kita bisa lihat mana cagar budaya yang paling rawan, lalu prioritas tindakan," jelas Abdul Muhari.
Ini Tanggung Jawab Kita Semua
Di akhir paparannya, Abdul Muhari mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama.
"Cagar budaya bukan hanya urusan menteri atau BNPB. Ini tanggung jawab kita sebagai bangsa. Jangan sampai anak cucu kita hanya melihat foto candi di buku, karena aslinya sudah hancur diterjang bencana."
Sahabat Jenterarakyat, mari kita jaga warisan leluhur. Dukung upaya pelestarian, laporkan jika ada situs terancam, dan sebarkan kesadaran ini ke lingkungan sekitar. Karena mel
indungi cagar budaya berarti melindungi jati diri bangsa.
Ditulis oleh
Redaksi Jentera