PJT I buka pintu air 6 hari, arus Sungai Brantas meningkat drastis; Polres Blitar patroli di 4 kecamatan rawan
BLITAR, jenterarakyat.com – Tradisi turun-temurun di Kabupaten Blitar kembali bergulir. Sejak Senin (18/5/2026) pagi, puluhan warga sudah berdatangan ke bantaran Sungai Brantas. Mereka datang dengan membawa jala, seser, tangguk, ember, bahkan k...
BLITAR, jenterarakyat.com – Tradisi turun-temurun di Kabupaten Blitar kembali bergulir. Sejak Senin (18/5/2026) pagi, puluhan warga sudah berdatangan ke bantaran Sungai Brantas. Mereka datang dengan membawa jala, seser, tangguk, ember, bahkan karung plastik. Tujuannya satu: menangkap ikan yang terbawa arus deras saat pladu atau flushing Waduk Wlingi dan Lodoyo.
Namun, euforia "pesta rakyat" ini nyaris berubah menjadi tragedi. Di hari pertama pladu, seorang warga asal Dusun Sembon, Kecamatan Kanigoro, hampir hanyut terseret arus. Beruntung, ia berhasil ditolong warga lain.
Lebih mengkhawatirkan lagi, hingga berita ini diturunkan, masih ada satu warga yang dilaporkan belum ditemukan. Tim gabungan dari BPBD, Polres Blitar, dan SAR masih melakukan pencarian.
Warga Hampir Hanyut, Tim SAR Dikerahkan
Peristiwa hampir hanyutnya warga terjadi pada Senin pagi, tidak lama setelah pintu air Bendung Lodoyo dibuka. Arus Sungai Brantas yang tiba-tiba meningkat drastis mengejutkan para pemburu ikan.
Seorang warga bernama Supri (42) diduga kurang waspada dan terlalu masuk ke tengah sungai. Arus deras kemudian menyeretnya. Warga sekitar yang melihat kejadian itu segera berteriak minta tolong.
"Suaranya kencang, Mas. Tiba-tiba ada yang berteriak 'tolong, tolong, ada yang hanyut'. Warga langsung pada menghampiri. Untung cepat ditolong, kalau tidak bisa apa-apa," ujar seorang saksi mata.
Pladu Waduk Wlingi-Lodoyo 2026 digelar 18-23 Mei. Warga tetap menjadikannya "pesta rakyat" mencari ikan. Di hari pertama, seorang warga hampir hanyut dan satu orang masih belum ditemukan
Korban berhasil dievakuasi ke tepi sungai dalam kondisi lemas dan syok. Ia segera dilarikan ke puskesmas terdekat.
Sementara itu, tim SAR masih menyisir aliran sungai untuk mencari satu warga yang dilaporkan belum ditemukan.
Polisi: Satu Nyawa Melayang Tahun Lalu
Aipda Muheni, Kasi Humas Polres Blitar, mengingatkan bahwa tahun lalu sudah ada korban jiwa akibat pladu. Seorang warga bernama KSN (67) meninggal dunia saat terjebak lumpur ketika mencari ikan.
"Kami tidak ingin kejadian itu terulang. Pagi tadi kita hampir kehilangan satu nyawa lagi. Kami minta masyarakat tidak nekat turun ke sungai," tegas Aipda Muheni.
Polres Blitar meningkatkan patroli di titik-titik rawan di sekitar Bendungan Wlingi Raya dan Bendung Lodoyo. Empat kecamatan menjadi prioritas pengawasan: Talun, Sutojayan, Kanigoro, dan Kademangan.
Tradisi "Pesta Rakyat" yang Mematikan
Meskipun berbahaya, pladu sudah lama menjadi tradisi tidak resmi yang dinanti-nantikan warga sekitar. Saat air waduk digelontor, banyak ikan yang mabuk atau terbawa arus deras ke hilir.
"Saya tahu ini berbahaya. Tapi ini rezeki tahunan, Mas. Setahun cuma sekali. Ya saya cari di pinggir saja, tidak ke tengah," ujar Slamet (50), warga Kanigoro.
Namun, tidak semua warga sebijak Slamet. Banyak yang nekat masuk ke tengah sungai demi mengejar ikan besar, tanpa memedulikan arus yang bisa naik sewaktu-waktu.
Faktor Bahaya Saat Pladu
Ada beberapa faktor yang membuat pladu sangat berbahaya:
1. Arus Sangat Deras: Kecepatan arus bisa mencapai lebih dari 10 meter per detik
2. Lumpur Licin: Dasar sungai berlumpur membuat warga mudah terpeleset
3. Air Naik Mendadak: Pintu air bisa dibuka lebih lebar tanpa peringatan
4. Ikan Mabuk Air: Ikan berenang ke pinggir, memancing warga masuk lebih jauh
Jadwal Pladu yang Perlu Diwaspadai
Hari Tanggal Tingkat Bahaya
Senin 18 Mei 2026 Waspada
Selasa 19 Mei 2026 Sangat Berbahaya
Rabu 20 Mei 2026 Sangat Berbahaya
Kamis 21 Mei 2026 Berbahaya
Jumat 22 Mei 2026 Waspada
Sabtu 23 Mei 2026 Mulai menurun
Imbauan untuk Warga
PJT I dan Polres Blitar mengimbau warga untuk:
1. Tidak mendekati sungai selama pladu berlangsung
2. Tidak membawa anak-anak ke lokasi pencarian ikan
3. Mengikuti informasi resmi dari PJT I dan kepolisian
4. Segera melapor jika melihat orang dalam keadaan bahaya
"Keselamatan jiwa jauh lebih berharga daripada sekarung ikan. Jangan sampai ada korban tahun ini," pungkas Aipda Muheni.
Ditulis oleh
Redaksi Jentera