"Jalan Bukan Pasar": Tim Gabungan Tertibkan Pasar Kebalen Malang, Pedagang 'Nekat' Berjualan hingga Sore Dibubarkan
MALANG, Jenterarakyat.com – Senja di kawasan Jalan Zaenal Zakse, atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Kebalen, biasanya selalu ramai. Namun Rabu (6/5/2026) sore berbeda. Suasana tegang menyelimuti area tersebut. Bukan karena tawuran, melainka...
MALANG, Jenterarakyat.com – Senja di kawasan Jalan Zaenal Zakse, atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Kebalen, biasanya selalu ramai. Namun Rabu (6/5/2026) sore berbeda.
Suasana tegang menyelimuti area tersebut. Bukan karena tawuran, melainkan karena tim gabungan dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag), Dinas Perhubungan (Dishub), serta TNI/Polri turun tangan menertibkan para pedagang yang berjualan di bahu jalan.
Sejak siang, puluhan petugas sudah bersiaga. Mereka menyusuri deretan lapak yang masih memajang barang dagangan: sayuran, bumbu dapur, hingga pakaian. Pedagang yang sedang melayani pembeli tampak terkejut. Beberapa berusaha cepat-cepat menutup dagangannya, sementara yang lain mencoba berdebat.
Jam Operasional Sudah Diatur, Tapi Sering Dilanggar
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, yang memimpin langsung penertiban, menjelaskan bahwa aturan sebenarnya sudah ada. Berdasarkan kesepakatan dengan Diskopindag, pedagang di bahu jalan Pasar Kebalen hanya diizinkan berjualan mulai pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB pagi. Setelah itu, mereka harus membersihkan dan menyingkirkan lapaknya.
"Jalan ini fungsinya untuk kepentingan lalu lintas. Jangan sampai dipergunakan selain kepentingan tersebut. Saat inilah waktunya mengembalikan fungsi jalan," ujar Widjaja tegas di sela-sela penertiban.
Namun faktanya, setiap hari mulai pagi hingga sore, bahkan menjelang maghrib, masih banyak pedagang yang bertahan. Akibatnya, arus lalu lintas di kawasan yang menghubungkan beberapa titik padat di Kota Malang itu kerap tersendat parah, terutama saat jam pulang kantor.
Pedagang: "Kami Cari Nafkah, Pak"
Salah seorang pedagang, Siti (45), mengaku baru setahun berjualan di Pasar Kebalen. Ia mengerti aturan, tetapi terpaksa melanggar karena persaingan ketat.
"Kalau hanya jualan malam sampai pagi, pembeli sepi. Makanya saya buka dari pagi. Ini untuk biaya sekolah anak, Pak," ratap Siti saat petugas memintanya menutup lapak.
Widjaja mengakui sisi kemanusiaan dari persoalan ini. Namun ia menegaskan bahwa kepentingan umum harus didahulukan.
"Kami paham mereka cari nafkah. Tapi kemacetan yang terjadi setiap hari juga merugikan ribuan orang lain. Solusinya bukan saling menyalahkan, tapi mencari titik temu," ujarnya.
Sorotan ke Pembeli 'Drive-thru' di Badan Jalan
Yang menarik, Widjaja juga menyoroti perilaku masyarakat yang menjadi pembeli. Menurutnya, tidak sedikit pengendara motor atau bahkan mobil yang berhenti di tengah jalan untuk bertransaksi.
"Sangat berdampak sekali 'drive-thru' ini. Bahkan mobil pun pernah kami temukan melakukan 'drive-thru'. Ini soal perilaku, karena lalu lintas adalah soal perilaku," tegasnya.
Fenomena drive-thru ini memperparah kemacetan. Kendaraan berhenti mendadak, klakson berbunyi di belakang, dan antrean panjang tak terhindarkan.
Penertiban dan Pemantauan Berkala
Penertiban hari itu dilakukan secara persuasif. Petugas tidak menyita barang, hanya membubarkan dan mengingatkan. Namun peringatan terakhir diberikan: jika masih ditemukan pelanggaran, tindakan tegas akan dilakukan.
Untuk memastikan kawasan Pasar Kebalen tetap tertib, Dishub akan menerjunkan 10 personel yang akan berjaga secara bergiliran. Mereka akan memantau setiap hari, terutama pada jam-jam rawan pelanggaran.
"Kami berharap kerja sama dari seluruh pihak, baik pedagang maupun pembeli, demi kenyamanan masyarakat secara umum," pungkas Widjaja.
Di kejauhan, para pedagang mulai merapikan dagangan. Ada yang pasrah, ada yang masih berbisik kesal. Tapi lampu senja di Pasar Kebalen mulai meredup, dan jalan yang sempit itu perlahan kembali lega.
Ditulis oleh
Redaksi Jentera