Usai Viral Konpers BEM Bersatu, 10 Nama Anggota Himpunan Kampus Kini Diburu, 2 di Antaranya Diklaim Palsu
JAKARTA TIMUR, Jenterarakyat.com – Konferensi pers yang digelar oleh Aliansi BEM Bersatu di Utan Kayu, Jakarta Timur, pada Selasa (16/6/2026), kini menjadi sorotan tajam publik. Setelah video dan pernyataan mereka viral, sejumlah kejanggalan mu...
JAKARTA TIMUR, Jenterarakyat.com – Konferensi pers yang digelar oleh Aliansi BEM Bersatu di Utan Kayu, Jakarta Timur, pada Selasa (16/6/2026), kini menjadi sorotan tajam publik. Setelah video dan pernyataan mereka viral, sejumlah kejanggalan mulai terungkap. Sepuluh nama mahasiswa yang diklaim sebagai anggota dari berbagai kampus kini menjadi "buruan" publik untuk dikonfirmasi kebenarannya. Dua di antaranya bahkan telah dipastikan palsu.
Aliansi BEM Bersatu sebelumnya menyatakan sikap menolak gerakan mahasiswa yang ditunggangi kepentingan politik praktis. Namun, bantahan dari dua kampus justru mengindikasikan bahwa ada yang tidak beres dalam aliansi ini. Apakah BEM Bersatu benar-benar representasi mahasiswa atau hanya "dilempar" untuk tujuan tertentu?
UNAS Bantah Keberadaan BEM FISIP
Kejanggalan pertama datang dari Universitas Nasional (UNAS) . Dekan FISIP UNAS, Aos Yuli Firdaus , secara tegas menyatakan bahwa FISIP UNAS tidak memiliki organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di tingkat fakultas. Ini menjadi bantahan keras atas klaim bahwa Ardi Zulkifly adalah Ketua BEM FISIP UNAS.
"FISIP Universitas Nasional tidak memiliki organisasi BEM di tingkat fakultas. Oleh karena itu, tidak terdapat jabatan Ketua BEM FISIP Universitas Nasional dalam struktur organisasi kemahasiswaan yang berlaku di lingkungan FISIP Universitas Nasional," tegas Yuli.
Publik pun bertanya: jika tidak ada BEM FISIP, bagaimana Ardi Zulkifly bisa mengaku sebagai ketuanya?
BEM FTI UBSI: Kami Tak Punya Anggota Bernama Ahmad
Bantahan kedua datang dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) . Melalui akun Instagram resmi @bemftiubsi, BEM FTI UBSI menyatakan tidak pernah mengirimkan perwakilan dalam konferensi pers BEM Bersatu.
"BEM FTI UBSI tidak pernah menghadiri maupun mengirimkan perwakilan pada konferensi pers tersebut. BEM FTI UBSI juga tidak memiliki pengurus, anggota, maupun ketua bernama Ahmad sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan terkait," tulis pernyataan resmi tersebut.
Dengan demikian, segala pernyataan yang disampaikan oleh pihak yang mengatasnamakan BEM FTI UBSI dalam forum tersebut bukan merupakan sikap maupun pernyataan resmi organisasi.
10 Nama yang Diburu Publik
Berikut adalah sepuluh nama yang diklaim sebagai anggota BEM Bersatu dalam konferensi pers:
1. Ardi Zulkifly – Ketua BEM FISIP UNAS (DIBANTAH UNAS)
2. Ahmad – BEM FTI UBSI (DIBANTAH UBSI)
3. Wildan Ricky – Ketua BEM Fakultas Hukum UNISIA
4. Muhammad Yani – BEM Fakultas Hukum UIJ
5. Ardiansyah – Ketua BEM Institut Al-Aqidah
6. Ahmad Ghazy – BEM Psikologi UNJ
7. Alfi – Ketua BEM FEB UNPAM
8. Rahmat Djimbula – Ketua BEM Hukum UIC (Inisiator)
9. Dicky – BEM F.IPS Unindra
10. Rezky Anandar – BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI
Dua nama pertama telah dipastikan palsu. Kini publik menunggu klarifikasi dari delapan kampus lainnya.
Rahmat Djimbula dan Misi BEM Bersatu
Rahmat Djimbula, Ketua BEM Hukum UIC, dalam konferensi pers menyampaikan bahwa gerakan mahasiswa harus menjadi suara rakyat, bukan alat elite.
"Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan," kata Rahmat.
Namun, pernyataan ini justru kontradiktif dengan fakta bahwa dua anggotanya adalah fiktif. Apakah ini menunjukkan bahwa BEM Bersatu sendiri yang melakukan penunggangan?
Reaksi Publik dan Kekhawatiran
Viralnya konpers BEM Bersatu dan bantahan dari dua kampus memicu reaksi beragam di media sosial. Banyak warganet yang menyayangkan adanya oknum yang mencoba memanfaatkan isu kemahasiswaan.
"Ini sangat disayangkan. Gerakan mahasiswa yang seharusnya murni justru dicemari oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Semoga kampus-kampus lain segera mengklarifikasi," tulis salah satu warganet di Twitter.
Pengamat politik juga menyoroti fenomena ini. "Jika terbukti ada pihak yang sengaja membentuk aliansi palsu untuk meredam aksi mahasiswa, maka ini adalah bentuk manipulasi yang sangat berbahaya. Publik harus waspada," ujar pengamat.
Ke Depan, Mahasiswa Harus Lebih Transparan
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia kemahasiswaan. Transparansi dan verifikasi anggota menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas gerakan mahasiswa.
"Mahasiswa harus memastikan bahwa setiap pernyataan yang dikeluarkan benar-benar mewakili suara organisasi. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan nama baik kampus untuk kepentingan tertentu," ujar aktivis mahasiswa dari Universitas Indonesia.
Jenterarakyat.com akan terus memantau perkembangan kasus ini. Publik berhak mengetahui siapa sebenarnya di balik BEM Bersatu dan apa motif di balik konferensi pers yang kontroversial tersebut.
( St )
Ditulis oleh
Redaksi Jentera